Tentang Jogja Benih

Benih/bibit merupakan cetak biru dalam pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang berdayasaing, berkelanjutan, berkerakyatan, dan terdesen­tralisasi. Oleh sebab itu, ketersediaan benih/bibit bermutu dari varietas/jenis unggul sangat strategis karena menjadi tumpuan utama dalam pencapaian keberhasilan usaha tani. Industri benih/bibit sebagai salah satu subsistem dalam sistem agribisnis bersifat profit oriented, dengan dunia usaha sebagai pemegang peran utama dan Pemerintah sebagai fasilitator.

Dalam pengembangan industri benih/bibit, masih sangat dibutuhkan peran Pemerintah untuk mengupayakan kondisi yang menguntungkan (favorable), mulai dari pelestarian dan pengelolaan plasma nutfah sebagai materi genetik varietas/jenis unggul, pengembangan varietas unggul, produksi benih/bibit dan sertifikasi, hingga pengawasan mutu benih/bibit.

Penumbuhan Jogja Benih adalah bagian dari program pengembangan agribisnis di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gagasan ini cukup realistis, mengingat saat ini di DIY terdapat sejumlah pelaku usaha yang bergerak dalam bidang perbenihan/perbibitan di samping kekuatan kelembagaan perbenihan/perbibitan yang ada (Pemerintah, swasta, dan pihak-pihak yang berkomitmen dengan pengembangan perbenihan/perbibitan).

Konsep Jogja Benih

Jogja Benih meliputi dua aspek, yaitu aspek pengembangan perbenihan kewilayahan dan aspek pengembangan perbenihan terkoordinasi, dengan adanya pusat pelayanan perbenihan. Dalam rencana (master plan) Jogja Benih yang diterbitkan sebagai hasil kerja sama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, dicakup dua bidang rencana induk, yaitu:

  1. Bidang Operasional Perbenihan, yang meliputi senarai kegiatan: a) penelitian (eksplorasi, pemeliharaan dan pemanfaatan plasma nutfah di DIY); b) produksi benih bersertifikat; c) sistem dan pelaksnaan distribusi serta pemasaran benih bersertifikat dan benih bermutu belum bersertifikat;
  2. Bidang Pelayanan, termasuk pengawasan dan sertifikasi benih/bibit, pelayanan informasi, promosi, konsultasi/pelatihan, kajian, koordinasi temu mitra usaha, dan penyuluhan perbenihan.

Bekerjanya dua bidang tersebut menciptakan sistem pemasaran benih tanaman pangan, hortikultura, bibit ternak, bersama-sama dengan pemasaran bibit ikan, tanaman perkebunan dan tanaman hutan, sekaligus akan mendorong petani untuk mengadopsi benih/bibit unggul dalam melaksanakan usaha mereka.

Peran Masyarakat dan Petani

Masyarakat petani merupakan ujung tombak dalam implementasi gagasan Jogja Benih. Melalui sosialisasi yang efektif, petani akan makin menya­dari arti penting benih/bibit berkualitas sebagai input agribisnis yang amat menentukan. Petani didorong untuk mentransformasi jenis usahatani dari berorientasi produksi konsumsi ke arah produksi input. Insentif yang diperoleh petani berupa meningkatnya nilai tukar komoditas pertanian (farmer’s exchange value) yang menjanjikan peningkatan pendapatan usaha tani. Sebagai pusat perbenihan/perbibitan, masalah-masalah yang terkait dengan ketersediaan benih/bibit pada saat dibutuhkan petani tidak akan terjadi lagi. Misalnya, di Kulonprogo, di kalangan petani sayuran, benih/bibit impor amat dominan penetrasinya. Pada saatnya nanti, DIY adalah penghasil benih/bibit, bukan konsumen benih/bibit, sehingga masalah akan bergeser ke arah penciptaan peluang pasar, positioning produk benih/bibit ke pasar nasional maupun global.

Peran Swasta

Swasta atau pebisnis dipastikan menjadi pelaku-pelaku utama bisnis perbenihan/perbibitan. Menggagas Jogja Benih berarti menggagas sebuah gerakan masyarakat berorientasi bisnis untuk memberdayakan diri dengan dukungan fasilitasi dan kebijakan Pemerintah. Jogja Benih dari sudut pandang swasta adalah sebuah solusi dari potensi yang hingga saat ini justru mengalami kebuntuan aktualisasi: banyak tumbuh penangkar, luas lahan masih memadai untuk produksi benih/bibit, namun pemasaran penuh ketidakpastian. Ide Jogja Benih diharapkan mampu menjel­makan Yogyakarta menjadi pusat produksi benih/bibit, pusat perdagangan benih/bibit, serta pusat informasi perbenihan/perbibitan.

Peran Lembaga Terkait

Perguruan tinggi amat berperan dalam pewujudan Jogja Benih dengan sumber daya manusia yang handal dan berkeahlian, laboratorium serta perangkat analisis yang memadai, dan akses teknologi yang amat bagus. Perguruan tinggi kiranya bisa menyediakan jasa konsultansi dan pendampingan dalam kerangka penumbuhan serta operasionalisasi Jogja Benih nantinya.